Era Influencer Berakhir? Ini 3 Tantangan Besarnya

Senja mungkin menggambarkan fase akhir sebelum gelap datang. Mungkin juga akhir dari suatu era, ataupun menjadi konsep akan fase kehidupan akhir, penuaan, ketidakpastian serta ambang batas.
Kata orang, semua punya masanya, begitu pun dengan peran-peran para pembentuk persepsi yang mungkin juga memiliki linimasa terbatas. Dulu kita masih percaya, tapi sekarang? Masih adakah kepercayaan itu hadir di antara figur-figur pengaruh? Masih perlu dan relevankah?
Kita pernah berada pada waktu ketika kita begitu memercayai seorang influencer. Namun belakangan ini, perasaan percaya itu perlahan berganti menjadi kelelahan. Ketika setiap rekomendasi berujung pada tautan, setiap opini publik terindikasi agenda pesanan, hingga kita menyadari bahwa mungkin hubungan emosional yang dulu terasa dekat kini berubah menjadi transaksi komersial.
Realitas ini menandai datangnya babak baru di panggung komunikasi publik. Masa keemasan influencer sebagai pembentuk opini publik ‘kelihatannya’ memudar, tergerus oleh tiga krisis utama, yaitu kepercayaan, disrupsi kecerdasan buatan, serta pergeseran nilai publik yang merindukan independensi dan verifikasi informasi.
Distrust
Sebuah laporan Edelman Trust Barometer 2026 tentang Special Report: Brand Growth in an Insular World menyatakan tingkat kepercayaan terhadap influencer dan selebritas berada paling bawah, dengan angka 42, dan masuk ke dalam kategori distrust. Kenapa? Mungkin alasan sederhananya, because we failed to align on trust and shared values.
Krisis ini kian diperparah oleh dinamika informasi di era digital. Menurut Danto Dewanto, Managing Partner Digital Nusantara Advertensi (19/10), kita hari ini hidup di era post-truth, di mana batas antara fakta dan manipulasi makin kabur. Ketika buzzer dimanfaatkan secara serampangan untuk menggiring opini publik, yang tersisa di benak masyarakat adalah kebingungan dan rasa muak.
Eranya, berita ini terkadang bukan hoaks murni, melainkan informasi yang belum terkonfirmasi dan terus-menerus diolah hingga akhirnya menjadi sebuah kebenaran. Di tengah arus cognitive warfare yang sengaja memicu emosi dasar seperti kemarahan dan kekesalan, audiens mengalami kejenuhan kolektif.
Disrupsi AI (Artificial Intelligence)
Di saat yang bersamaan, disrupsi teknologi hadir melalui masifnya penggunaan Generative AI. Riset Gartner 2026 mengungkap secara global bahwa 35% orang kini kurang bergantung pada influencer untuk mencari informasi karena munculnya AI.
Meski tidak menolak secara langsung, audiens pengguna ruang publik digital kini menjadi aktif memilah konten yang mereka percayai dan andalkan seiring dengan konten yang mereka hasilkan dengan AI semakin banyak secara online.
Namun, apakah manusia akan sepenuhnya tersingkir? Praktisi komunikasi melihat batas tegas di sana. “AI memiliki fungsi utama untuk melengkapi, bukan menggantikan, dan manusia memiliki pengalaman unik yang berbeda-beda. Kita mungkin datang ke tempat yang sama, tapi tidak dengan pengalamannya. Sedangkan AI tidak memiliki rasa, indra, dan sentuhan. Sebagus apa pun AI merangkai kata, hasilnya akan tetap terlihat scripted. AI tidak mendisrupsi selama influencer mempertahankan uniqueness as human pada storytelling-nya.” tambah Danto.
Pergeseran Value
Lantas, apakah ini berarti akhir dari industri influencer? Danto (19/10) menilai bahwa jawabannya bukan ‘mati’, melainkan seleksi alam. Masa keemasan figur yang hanya menjual angka views kini sudah lewat. Industri kini sedang mengalami pembersihan, dan influencer tidak akan sunset selama instrumen pendekatannya berbasis relasi atau relationship-driven.
Jumlahnya memang mengalami penurunan karena fenomena bubbling dan KPI bergeser dari sekadar views ke interaksi nyata. Tapi yang bertahan hanyalah mereka yang mampu membangun trust dan transparansi.
Kelelahan publik terhadap konten media sosial sebenarnya bukan tanpa alasan. Arus informasi saat ini sangat berlebih dan merangsang kognisi kita ke tingkat paling dasar. Konten yang memicu kemarahan, kekesalan, dan kontroversi adalah yang paling mudah memancing perhatian di dalam chamber media sosial.
Menghadapi lanskap komunikasi yang makin kompleks, agensi PR dituntut untuk menerapkan standar baru dalam memilih mitra kolaborasi. Bukan lagi sekadar melihat jumlah pengikut, melainkan melalui proses profiling, screening, dan assessment ketat.
Pada akhirnya, baik melalui media massa resmi maupun kreator independen yang beretika, merawat hubungan jangka panjang dan menjaga independensi pesan adalah harga mati agar dunia komunikasi publik tidak kehilangan arah di tengah bisingnya era digital.