Kapan Sebuah Isu Perlu Ditangani Serius?

Doc. Issues and Crisis Management Ilustration by Freepik/Rawpixels.

Satu komentar negatif tentang lembaga ataupun perusahaan bisa muncul di media sosial dan mendapatkan ratusan respons dalam waktu singkat. Dalam situasi seperti ini, perusahaan mungkin langsung bertanya apakah ini sudah menjadi krisis.

Jawabannya belum tentu. Ramainya sebuah percakapan memang perlu perusahaan perhatikan, tetapi jumlah komentar bukan satu-satunya hal yang menentukan apakah sebuah isu menjadi krisis. Lantas, kapan sebuah isu perlu perusahaan tangani secara serius? Berikut penjelasannya lebih lanjut, dilansir dari Public Relations Society of America (PRSA, 21/9).

Apa bedanya isu dan krisis?

Isu merupakan sesuatu yang mulai menjadi perhatian dan berpotensi memengaruhi organisasi, tetapi masih memberikan ruang bagi perusahaan untuk memahami situasi, mencari fakta, dan menentukan respons.

Krisis memiliki dampak dan urgensi yang lebih besar. Situasinya dapat mengganggu operasi, reputasi, atau kepentingan penting organisasi sehingga membutuhkan perhatian dan keputusan yang lebih cepat.

Public Relations Society of America (PRSA) melalui materi tentang crisis communications membedakan issue dan crisis dengan melihat tingkat urgensi dan dampaknya. Isu masih memberi ruang untuk meneliti fakta dan memahami situasi, sedangkan krisis dapat mengancam operasi atau reputasi organisasi dan membutuhkan perhatian pimpinan.

Kapan sebuah isu mulai perlu ditangani serius?

  • Isu mulai menyebar ke lebih banyak kanal.
  • Banyak pihak mulai ikut terlibat.
  • Pertanyaan publik mulai berulang.
  • Isu mulai menyentuh reputasi.
  • Ada potensi dampak terhadap bisnis atau operasional.

Sebuah isu tidak otomatis berubah menjadi krisis hanya karena menjadi semakin ramai. Perubahan status biasanya berkaitan dengan meningkatnya dampak, urgensi, serta risiko yang dihadapi organisasi.   

Karena itu, ukuran sebuah isu tidak cukup kita lihat dari jumlah orang yang membicarakannya. Perusahaan juga perlu melihat siapa, apa yang sedang mereka bicarakan, bagaimana isu berkembang, dan apa dampaknya bagi organisasi.

Kenapa tidak bisa hanya menunggu isu hilang?

Tidak semua isu membutuhkan pernyataan resmi. Namun, bukan berarti perusahaan cukup menunggu sampai percakapan tersebut menghilang dengan sendirinya. Perusahaan perlu memantau percakapan, mengidentifikasi isu, memeriksa fakta, memahami konteks, melihat siapa yang terdampak, dan menilai apakah isu berkembang atau tidak.

PSRA menekankan pentingnya praktik Issue management sebagai bagian dari kesiapan menghadapi situasi krisis, termasuk mengidentifikasi dan memprioritaskan potensi masalah sebelum berkembang.

Apa yang perlu dilakukan saat isu mulai berkembang?

  • Monitor: Cari tahu apa yang sebenarnya sedang audiens bicarakan.
  • Assess: Nilai skala, konteks, stakeholder, dan potensi dampaknya.
  • Verify: Pastikan informasi yang perusahaan gunakan untuk merespons benar.
  • Decide: Tentukan apakah perlu respons, siapa yang berbicara, dan melalui kanal apa.
  • Communicate: Sampaikan informasi yang relevan dengan jelas dan konsisten.
  • Monitor again: Setelah respons diberikan, lihat bagaimana publik mereponsnya.

Apa hubungan issue management dengan reputasi?

Isu mungkin dimulai dari satu kejadian, tetapi dampaknya dapat meluas ke cara publik melihat sebuah brand. Karena itu, pengelolaan isu tidak hanya berkaitan dengan menghentikan percakapan negatif, tetapi juga menjaga agar masalah tidak berkembang menjadi persoalan reputasi.

PSRA mendefinisikan reputation management sebagai serangkaian tindakan dan komunikasi yang mengarah pada bagaimana organisasi dipandang oleh publik penting. Dalam konteks digital, pemantauan percakapan menjadi semakin penting karena informasi yang berpotensi merusak reputasi dapat menyebar dengan cepat.

Kapan lembaga membutuhkan Crisis dan Issue Management?

Crisis & Issue Management relevan ketika perusahaan:

  • Menghadapi isu yang berkembang.
  • Membutuhkan pemetaan risiko komunikasi.
  • Perlu memonitor percakapan publik.
  • Menghadapi situasi yang berpotensi memengaruhi reputasi.
  • Membutuhkan strategi respons yang lebih terstruktur.
  • Perlu menjaga konsistensi komunikasi selama isu berlangsung.

Mengelola isu tidak selalu berarti harus memberikan respons yang besar. Justru perusahaan membutuhkan kemampuan untuk menentukan kapan harus merespons, apa yang perlu perusahaan sampaikan, kepada siapa yang menjadi target pesan tersebut, dan bagaimana memantau perkembangannya setelah komunikasi dilakukan.

Pendekatan Crisis dan Issue Management membantu perusahaan melihat persoalan tersebut secara lebih terstruktur, mulai dari identifikasi isu, pemetaan risiko, penyusunan strategi komunikasi, hingga pemantauan perkembangan isu.

Closing

Sebuah isu pada akhirnya tidak bisa hanya dinilai dari seberapa ramai percakapan yang muncul. Ada isu yang ramai tetapi cepat mereda, sementara isu yang awalnya kecil dapat berkembang ketika perusahaan tidak cepat memahaminya atau menanganinya.

Karena itu, perusahaan perlu melihat lebih jauh dari sekadar jumlah komentar atau pemberitaan. Memahami konteks, memantau perkembangan, menilai risiko, dan menentukan respons yang tepat menjadi bagian penting dalam menjaga reputasi.