Pengaruh Influencer Terhadap Persepsi

Seorang influencer bukan hanya membentuk perhatian publik, namun juga ikut membangun persepsi pada produk dan citra lembaga atau perusahaan sampaikan. Cara influencer menyampaikan informasi memengaruhi bagaimana audiens memandang sebuah merek.
Tapi, mengapa rekomendasi dari seseorang di media sosial bisa membuat instansi terlihat kredibel dan tidaknya, relevan dan tidaknya, atau bahkan dapat membuat audiens lebih dekat dan menjauh? Berikut penjelasannya lebih lanjut, dilansir dari Journal Academy of Marketing Science melalui A meta-analysis of the effectiveness of social media influencers (2025)
Pengaruh Influencer Berawal dari Kredibilitas
Meta-analisis 2025 menemukan bahwa kredibilitas merupakan salah satu mekanisme utama yang menjelaskan bagaimana influencer memengaruhi publik. Ada setidaknya 3 elemen:
- Expertise – Audiens menganggap influencer memahami topik.
- Trustworthiness – Audiens menganggap influencer bisa dapat mereka percaya.
- Relevance – audiens menganggap influencer memang cocok dengan isu yang sedang ramai mereka bicarakan.
Artinya, pengaruh influencer tidak selalu dimulai dari jumlah followers. Persepsi audiens terhadap influencer juga menjadi bagian dari bagaimana pesan mereka terima.
Relevansi Influencer Perkuat Pesan
Popularitas memang dapat membantu sebuah campaign mendapatkan perhatian. Namun, popularitas tidak selalu berarti relevan.
Relevansi membuat pesan terasa lebih masuk akal karena audiens sudah memiliki konteks mengenai hubungan influencer dengan topik tersebut. Karena itu, pemilihan influencer sebaiknya tidak hanya Anda mulai dari “berapa banyak followers yang mereka miliki”, tetapi juga “mengapa orang tersebut relevan untuk membicarakan topik ini?”
Persepsi Terhadap Influencer juga Membawa Pengaruh pada Instansi
Ketika influencer menjadi bagian dari sebuah campaign, publik tidak hanya melihat suatu merek. Mereka juga melihat hubungan antara produk, influencer, dan pesan yang sedang mereka sampaikan.
Mereka berkaitan dengan penilaian sosial terhadap suatu merek, termasuk aspek seperti reputasi, legitimasi, dan social standing. Dengan kata lain, influencer bukan sekadar pihak yang membantu menyebarkan konten. Sosok yang dipilih juga dapat menjadi bagian dari konteks yang digunakan publik ketika menilai sebuah merek atau produk dan jasa.
Selain itu, campaign tidak berhenti ketika influencer mengunggah konten. Perusahaan perlu melihat apakah audiens memahami pesan yang sedang mereka sampaikan, apakah percakapan berkembang sesuai dengan tujuan campaign, atau justru malah menimbulkan isu lain yang sebelumnya belum perusahaan perkirakan.
Dengan begitu, influencer tidak hanya audiens pandang sebagai kanal untuk menyebarkan pesan instansi, tetapi juga menjadi bagian dari ekosistem komunikasi yang terpantau.
Influencer Bukan Sekadar Soal Reach
Pengaruh influencer terhadap persepsi tidak hanya dari seberapa banyak orang yang dapat mereka jangkau. Kredibilitas, relevansi, expertise, reputasi, dan kesesuaian dengan merek, citra, ataupun produk menjadi bagian dari pertimbangan ketika memilih influencer untuk sebuah campaign.
Kerena itu, strategi influencer sebaiknya Anda mulai dari tujuan komunikasi yang jelas. Perusahaan perlu menentukan pesan yang ingin mereka sampaikan, siapa audiens yang mereka jangkau, figur seperti apa yang relevan, serta bagaimana respons publik akan perusahaan ukur setelah campaign berjalan.
Dengan pendekatan tersebut, influencer bukan sekadar pilihan berdasarkan jumlah followers, tetapi menjadi bagian dari strategi komunikasi yang lebih terintegrasi.