Brand Identity vs Brand Image: Apa Bedanya | Diginusantara PR

Photo by Andy Brown on Unsplash

Banyak brand merasa sudah tahu ingin dikenal sebagai apa. Namun, masalahnya, apakah audiens melihat hal yang sama?

Di tengah riuhnya interaksi pasar, persepsi publik tidak hanya lahir dari pernyataan resmi perusahaan. Pengalaman langsung, gaya komunikasi, hingga percakapan di media sosial turut membentuk cara audiens menilai suatu bisnis. Oleh karena itu, pemahaman tentang brand identity dan brand image menjadi krusial.

Apa itu Brand Identity dan Brand Image?

Brand Identity adalah cara perusahaan mendefinisikan dan mengomunikasikan “siapa” dirinya. Identitas ini lahir dari internal perusahaan melalui rancangan nilai, karakter, serta arah bisnis yang ingin mereka tampilkan secara konsisten.

Brand Image, di sisi lain, merupakan muara dari persepsi tersebut. Ini adalah cara audiens benar-benar merasakan, memandang, dan menilai suatu brand berdasarkan pengalaman nyata mereka.

Apa Perbedaannya?

Brand identity bersumber dari internal brand. Tim pemasaran merancang strategi dan komunikasi agar bisnis memiliki arah visual serta pesan yang jelas bagi pelanggan. Sementara itu, brand image tumbuh di benak audiens. Citra ini terbentuk secara alami dari interpretasi dan pengalaman audiens saat berinteraksi dengan produk atau layanan.

Oleh sebab itu, keselarasan antara keduanya menjadi kunci utama pertumbuhan jangka panjang perusahaan.

Mengapa Keduanya Penting?

Praktiknya, brand identity dan brand image sering kali tidak sejalan. Sebagai contoh, perusahaan mungkin ingin tampil ramah (approachable), tetapi gaya komunikasi yang kaku dan layanan yang mengecewakan justru membuat audiens menarik kesimpulan berbeda. Celah (gap) ini berbahaya karena persepsi audiens menentukan keputusan mereka untuk bertahan atau berpaling.

Selain itu, brand image yang positif meningkatkan nilai aset perusahaan secara signifikan. Ketika audiens memiliki persepsi baik, mereka percaya bahwa brand tersebut sanggup memenuhi kebutuhan dan memberikan kepuasan. Jadi, sekadar merancang identitas saja belum cukup; perusahaan wajib memastikan audiens menerima pesan tersebut dengan tepat.

Cara Menyelaraskan Identity dan Image

Perusahaan dapat menjembatani celah ini melalui beberapa langkah praktis:

  1. Menjaga Konsistensi: Menyampaikan nilai, tone of voice, positioning, dan pengalaman pelanggan secara konsisten di semua kanal interaksi.
  2. Aktif Mendengarkan: Merespons serta menyerap masukan audiens untuk mengevaluasi apakah pesan perusahaan sudah sampai sesuai harapan.

Dengan demikian, menyatukan pesan perusahaan dan perasaan audiens memungkinkan bisnis membangun reputasi yang solid serta berkelanjutan.

Kesimpulan

Brand identity dan brand image adalah dua pilar yang saling melengkapi. Membangun brand bukan sekadar menentukan pesan yang menarik, melainkan memastikan audiens menerjemahkan pesan tersebut sesuai harapan perusahaan.

Membangun identitas yang kuat menuntut strategi komunikasi yang mampu mengubah positioning menjadi narasi relevan, konsisten, dan berdampak positif di mata publik. Diginusantara hadir sebagai mitra public relations untuk membantu perusahaan merancang strategi komunikasi, menyusun narasi yang kuat, serta membangun hubungan tepercaya dengan media dan publik.