Ketika Brand Punya Persona, Apa yang Membuatnya Diingat?
“Bisa ketemu sama Amanda di outletnya sekalian?” Bayangkan kalau sebuah brand tidak lagi berbicara seperti perusahaan.
Interaksi Toshiba TV dan Amanda Brownies yang sempat menjadi percakapan di X ini, tampil dengan persona yang membuat konsumen mengenali brand tidak hanya melalui logo, warna, atau produk, tetapi juga melalui karakter dan cara berkomunikasi.

Fenomena ini menunjukkan bahwa komunikasi antarmerek dapat membuat audiens lebih mudah mengingat sebuah brand, loh. Berikut penjelasan lebih lanjut, mengutip Leaderonomics (14/9).
Apa itu Brand Persona?
Menurut Markuva (2026), brand persona adalah karakter atau kepribadian yang ingin ditampilkan sebuah brand melalui cara berbicara, berinteraksi, dan menyampaikan pesan kepada audiens.
Misalnya, brand ingin audiens mengenal mereka sebagai merek yang playful. Persona ini kemudian tercermin dalam pilihan kata, gaya bahasa, humor, respons terhadap audiens, visual, hingga cara brand mengikuti percakapan di media sosial.
Toshiba dan Amanda Brownies, Ketika Brand Seolah Punya Cerita Sendiri
Pada awal 2026, interaksi Toshiba TV dan Amanda Brownies di X menjadi contoh bagaimana brand menggunakan karakter untuk menciptakan percakapan yang terasa organik. Toshiba mengambil peran sebagai sosok “pria matang yang bucin”, sementara Amanda Brownies menjadi bagian dari cerita tersebut.
Interaksi itu kemudian berkembang dan ikut melibatkan beberapa brand lain. Hal ini, bukan sekadar menjadi promosi produk, tapi juga mengambil “peran” tertentu yang membuat audiens bisa mengikuti cerita, hingga menjadi bagian dari entertainment di media sosial.
Mengapa Persona Bisa Membuat Brand Terasa Lebih Dekat?
Brand yang memiliki karakter dapat berkomunikasi dengan cara yang lebih natural, sehingga membuat mereka lebih terasa manusiawi. Selain itu, persona yang konsisten membuat audiens dapat mengenali gaya komunikasi sebuah brand, dari pilihan bahasa, respons terhadap tren, hingga cara membalas komentar.
Di sisi lain, persona membuka ruang untuk interaksi dan tidak terasa satu arah. Pada titik ini, media sosial tidak lagi hanya menjadi tempat distribusi iklan, tetapi juga ruang untuk membangun relationship dengan audiens.
Namun, punya persona bukan berarti brand harus selalu lucu. Yang paling penting adalah kesesuaian antara persona dengan identitas brand dan audiensnya.
Takeaway
Persona bukan berarti menjual sebuah kepribadian. Interaksi Toshiba TV dan Amanda Brownies menunjukkan bahwa ketika brand memiliki persona yang jelas, komunikasi akan membangun hubungan yang lebih dekat dengan konsumen. Membangun hubungan dan persepsi yang membuat konsumen mengenali dan membedakan sebuah brand.
Terkadang, yang membuat konsumen mengingat bukan hanya apa yang mereka jual, tetapi bagaimana mereka hadir dalam percakapan.