Cara Brand Jepang Bertahan di Perubahan Industri Otomotif
Perubahan industri otomotif sedang mengalami metamorfosis. Ketika industri berubah, brand harus tetap jalan menyesuaikan iringan perubahan pasar.
Perkembangan kendaaran listrik, teknologi digital, perubahan perilaku konsumen, hingga persaingan dari pemain baru membuat brand otomotif harus terus beradaptasi. Namun, perubahan industri tidak otomatis membuat brand lama kehilangan relevansi.

Brand Jepang seperti Honda, masih memiliki posisi kuat karena kemampuan mereka untuk berubah tanpa kehilangan arah. Menurut Rhenald Kasali dalam siarannya (19/05/2026), salah satu kuncinya adalah kerelaan untuk memperbaiki diri. Setidaknya ada enam hal yang Honda lakukan, agar dapat terus mempertahankan eksistensinya.
Namun, hal tersebut tidak hanya relevan bagi industri otomotif. Tapi, juga berlaku bagi brand yang ingin tetap relevan di tengah perubahan pasar. Berikut penjelasannya lebih lanjut, mengutip dari Sprout Social dan Rhenald Kasali (13/9).
1. Merombak Struktur Riset dan Pengembangan
Memulai perubahan produk perlu dari bagaimana perusahaan menghasilkan pengetahuan dan inovasi. Riset dan pengembanan tidak bisa terus menggunakan cara yang sama ketika kebutuhan pasar sudah berubah. Perubahan industri membutuhkan pendekatan yang lebih adaptif, seperti kemampuan membaca perubahan sebelum perubahan tersebut menjadi masalah.
Dalam konteks komunikasi, prinsipnya serupa dengan social listening. Brand tidak cukup hanya menyampaikan pesan. Tapi juga perlu mendengarkan percakapan dan memahami perubahan sentimen serta kebutuhan audiens.
2. Menyatuhkan Kapabilitas Brand
Brand yang besar memiliki banyak aset dan kemampuan. Tantangannya adalah memastikan berbagai kemampuan tersebut bergerak dalam arah yang sama.
Produk, teknologi, komunikasi, dan pengalaman tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Sebagaimana komunikasi yang kuat bukan hanya soal membuat kampanye menarik, tetapi memastikan pesan yang muncul di berbagai kanal tetap membangun persepsi yang sama.
Konsumen mungkin melihat brand melalui banyak titik kontak, tetapi semuanya harus membawa identitas yang konsisten.
3. Memberikan Ruang bagi Engineer untuk Berani Berinovasi
Inovasi membutuhkan ruang untuk mencoba sesuatu yang berbeda. Jika setiap cara lama membatasi keputusan, brand akan kesulitan menghasilkan sesuatu yang relevan dengan perubahan era.
Dalam komunikasi brand, hal ini menerjemahkan sebuah keberanian akan bereksperimen dengan format dan pedekatan komunukasi.
Namun, ini bukan berarti brand harus mengikuti semua tren. Brand tetap perlu tahu kapan harus mencoba sesuatu dan kapan harus tetap berpegang pada identitasnya.
4. Mempercepat Proses Penciptaan Produk
Di tengah perubahan pasar, kecepatan menjadi bagian inti dari kemampuan beradaptasi. Produk atau inovasi yang terlalu lama dikembangkan beresiko tidak lagi sesuai ketika akhirnya diluncurkan.
Terlebih, kebutuhan konsumen berubah cepat, kompetitor bergerak cepat, dan teknologi berkembang cepat. Karena itu, brand perlu memperpendek jarak antara ide dan implementasi.
5. Mengevaluasi Produk yang Tidak Lagi Relevan
Mempertahankan brand bukan berarti mempertahankan semua hal yang pernah berhasil. Ada kalanya perusahaan harus berani mengakui bahwa sesuatu sudah tidak lagi relevan.
Hal yang sama berlaku pada strategi komunikasi, ketika pendekatan komunikasi terasa terlalu generik dan tidak lagi dapat menembus audiens, brand perlu melihat data dan mengevaluasi apa yang sebenarnya bekerja.
6. Fokus pada Produk yang Sesuai dengan Pasar
Inovasi bukan sekadar membuat sesuatu yang canggih, yang lebih penting adalah apakah inovasi tersebut menjawab kebutuhan pasar. Karena teknologi harus bertemu dengan kebutuhan konsumen, dan brand tidak boleh hanya mengikuti apa yang sedang populer.
Selain itu, brand perlu mengetahui siapa audiensnya, apa yang mereka cari, masalah apa yang mereka hadapi, percakapan apa yang sedang berkembang, dan konten seperti apa yang mendapatkan respons.
Penutup
Perubahan industri otomotif menunjukkan bahwa kekuatan sebuah brand tidak hanya ditentukan oleh seberapa lama brand tersebut berdiri. Yang lebih penting adalah seberapa mau brand tersebut belajar, mengevaluasi diri, dan beradaptasi.
Honda, melalui enam bentuk kerelaan memperbaiki diri yang Rhenald Kasali soroti, menunjukkan bahwa mempertahankan eksistensi tidak selalu berarti bertahan dengan cara lama.
Justru sebaliknya, brand yang ingin bertahan dalam jangka panjang harus berani berubah ketika pasar berubah.