Brand Ikut Tren Viral, Kapan Strategi Justru Bisa Jadi Bumerang?

Letters BRAND Illustration by Freepik/Rawpixel

Ketika sebuah tren tiba-tiba ramai di Tiktok, Instagram, X, atau platform lain, biasanya brand mulai bermunculan dengan versi kontennya masing-masing. Ada brand yang berhasil membuat konten terasa natural dan justru mendapat respons positif. Tapi ada juga yang terlihat seperti “maksa ikut viral.”

Di sinilah masalah: Apakah brand harus mengikuti setiap tren? Di media sosial, tren bisa berubah dalam hitungan jam, dan terlambat sedikit saja bisa membuat brand kehilangan momentum. Namun, mengejar tren terlalu cepat juga punya risiko.

Karena itu, tantangannya bukan sekadar bagaimana brand ikut tren, tetapi bagaimana menentukan tren yang memang layak diikuti. Berikut penjelasan selengkapnya dari Sprout Social (12/9).

Mengapa Brand Senang Mengikuti Tren Viral?

Salah satu faktornya ada pada perhatian yang lebih cepat. Dalam case ini, orang sudah membicarakan topiknya sehingga brand tidak selalu harus membangun awareness dari nol. Selain itu, mengikuti tren dapat meningkatkan relevansi dengan audiens karena brand melihat apa yang konsumennya bicarakan.

Keuntungan mengikuti tren juga dapat membuka peluang engagement. Tren menyediakan konteks yang sudah familiar bagi audiens, sehingga konsumen lebih mudah memahami dan merespons konten. Di samping itu, tren bisa membuat komunikasi terasa lebih aktual, terutama untuk brand yang memang aktif di media sosial.

Namun, tingginya perhatian terhadap sebuah tren tidak otomatis membuat konten tersebut cocok untuk sebuah brand.

Tidak Semua Tren Cocok untuk Semua Brand

Tren bisa saja sangat cocok untuk Brand A, tetapi bisa terasa aneh jika Brand B menggunakan konteks tren tersebut. Ada 3 sisi yang dapat membedah cocok atau tidak cocoknya brand tersebut:

  1. Karakter brand: Apakah tren sesuai dengan tone dan personality brand?
  2. Audiens: Apakah orang yang menjadi target brand memang memahami atau tertarik dengan tren tersebut?
  3. Konteks: Apakah ada isu sensitif, kontroversi, atau konteks tertentu yang membuat brand sebaiknya tidak ikut masuk?

Brand dengan karakter playful mungkin lebih mudah menggunakan meme atau tren humor. Tapi tidak dengan brand yang bergerak di bidang yang membutuhkan komunikasi yang sangat formal, sehingga perlu pendekatan berbeda.

Kapan Mengikuti Tren Justru Bisa Jadi Bumerang?

Konteks tren yang justru menimbulkan timbal balik negatif, adalah ketika brand mengikuti semua tren tanpa alasan yang jelas. Audiens bisa menyadari pola ini sebagai “attention seeker” semata karena tidak memberikan apa pun yang berhubungan dengan brand.

 Selain itu, tidak memahami konteks bisa menjadi bumerang. Terlebih, ketika brand tidak memahami cerita di balik tren tersebut. Di sisi lain, brand perlu memperhatikan timing yang tepat agar konten tidak terasa basi.

Bagaimana Menentukan Tren yang Layak?

Sebelum membuat konten, brand dapat lebih dulu mempertimbangkan tingkat relevansi pada tren dan audiens, kesesuaian karakter brand dengan tren, alasan untuk ikut tren, dan memahami keamanan konteks tren tersebut bagi brand.

Strategi komunikasi brand justru jauh lebih panjang daripada umur sebuah tren, sehingga brand lebih baik menjalani tren sebagai bagian dari momentum untuk menjalankan strategi dan bukan menjadi strategi itu sendiri.

Pada akhirnya, kemampuan brand bukan hanya terlihat dari seberapa cepat mereka mengikuti tren, tetapi dari seberapa tepat mereka memilih percakapan yang memang layak diikuti.