Bagaimana Menyatukan Pesan PR, Media, dan Media Sosial?

Sebuah perusahaan mengeluarkan pernyataan resmi melalui media. Beberapa jam kemudian, akun media sosialnya mengunggah konten dengan narasi yang sedikit berbeda. Di saat yang sama, juru bicara memberikan penjelasan yang terdengar tidak sepenuhnya sama dengan keduanya.
Tidak ada satu pun pernyataan yang benar-benar salah, tetapi publik akhirnya bertanya, sebenarnya, apa pesan yang ingin perusahaan sampaikan kepada publik? Oleh karena itu, mengetahui bagaimana menyatukan pesan PR dengan media serta media sosial dapat membuat pesan yang tersampaikan kepada khalayak menjadi selaras dan konsisten. Berikut penjelasan lebih lanjut dari Cision dan PRWeek melalui 2025 Comms Report (01/9).
Konsisten Bukan Berarti Copy-paste
Ketika organisasi berkomunikasi melalui media, website, Instagram, Linkedin, atau kanal lainnya, setiap platform memiliki karakter audiens dan format yang berbeda. Karena itu, pesan tidak harus lembaga tulis dengan kalimat yang identik. Yang perlu dijaga adalah pesan inti, fakta, posisi organisasi, dan tujuan komunikasi.
Cision dan PRWeek menemukan bahwa media sosial semakin menjadi bagian dari strategi PR, bukan hanya sebagai kanal distribusi. Dalam survei mereka terhadap lebih dari 300 pemimpin PR dan komunikasi, 51% mengatakan akan lebih mengandalkan earned social media pada tahun berikutnya.
Dengan begitu, menyatukan pesan PR, media, dan media sosial berarti memastikan semua kanal membawa pesan inti yang sama, meski format, gaya bahasa, dan cara penyampaiannya berbeda.
Mengapa Pesan Perlu Disatukan?
Ketika konteks pesan masing-masing kanal berbeda, hal itu mungkin terlihat masuk akal jika berdiri sendiri, tetapi masalahnya akan muncul ketika publik melihat semuanya secara bersamaan. Ada setidaknya 3 konsekuensi yang terjadi bila pesan pada masing-masing kanal berbeda:
- Publik bingung terhadap posisi organisasi dan akan sulit mengetahui pesan perusahaan atau instansi.
- Kredibilitas komunikasi melemah, sehingga perbedaan informasi dapat menimbulkan pertanyaan baru.
- Tim komunikasi bekerja tanpa arah yang sama.
Konsistensi pesan membantu organisasi menjaga kejelasan posisi, mengurangi informasi yang saling bertentangan, dan membangun pengalaman komunikasi yang lebih terpadu di berbagai kanal. Oleh karena itu, sebelum menentukan apakah pesan akan menjadi press release, Linkedin post, Instagram carousel, atau pernyataan juru bicara, organisasi perlu menentukan ‘apa satu hal yang ingin publik pahami?’
Bedakan Pesan Inti dengan Cara Penyampaiannya
Untuk menyatukan pesan di berbagai kanal, lembaga atau instansi lebih baik jika pesan yang sama memiliki pendekatan yang berbeda.
Pada kanal media perusahaan bisa melihat dari sisi kebutuhan news angle mereka, pada media sosial menempatkan diri pada sisi audiens, pada website perusahaan atau lembaga dapat memposisikan diri di sisi penyediaan informasi lengkap, dan pada juru bicara perusahaan dapat membuat talking points yang selaras akan pesan yang ingin instansi atau lembaga sampaikan.
Selain itu, perusahaan juga perlu memastikan fakta dan posisi organisasi tetap sama. Karena, perbedaan gaya bahas masih dapat publik terima, sedangkan perbedaan fakta jauh lebih akan berisiko.
Oleh sebab itu, integrasi komunikasi membutuhkan koordinasi sebelum konten dipublikasikan, bukan sekadar pemeriksaan setelah semua kanal sudah berjalan.
Closing
Komunikasi yang terintegrasi bukan berarti membuat semua kanal terdengar sama. Justru, kekuatannya terletak pada kemampuan menerjemahkan satu persen strategis ke berbagai konteks tanpa kehilangan makna utamanya.
Ketika PR, media, dan media sosial bekerja dari strategi yang sama, organisasi tidak hanya terlihat lebih konsisten. Namun, juga dapat memainkan perannya masing-masing dalam membangun pemahaman dan kepercayaan publik.