Apa Yang Terjadi Pada Narasi Jika AI Duduk Diantara PR?

Kecerdasan buatan (AI) semakin memediasi apa yang audiens lihat dan bagaimana model memilih, mengatur, serta mengolah informasi yang mengubah jarak pandang narasi terhadap suatu merek.
Dengan hal ini, peran AI meluas sebagai perantara antara orang dan informasi yang mereka konsumsi secara online. Provoke mencatat bahwa Google AI Overviews muncul dalam 43% pencarian pada Mei 2026, naik dari 15% pada 2025.
Lantas, jika AI ikut menentukan informasi mana yang muncul dan bagaimana informasi tersebut mereka susun, lalu apa yang terjadi pada narasi yang selama ini dibangun oleh PR? Berikut penjelasan lebih lanjut dari Provoke Media (07/10).
AI Di Tengah Publik dan PR
Peran AI di tengah publik tidak berarti menggantikan PR. Namun, menjadi intermediary atau perantara informasi.
Mesin pencari pada dasarnya mengarahkan pengguna pada berbagai sumber. AI melakukan lebih banyak hal seperti memilih informasi, meringkasnya, menentukan bagian yang mereka anggap penting, lalu menyusunnya menjadi jawaban.
Provoke Media (2026), dalam pernyataannya, mencoba mengajukan pertanyaan yang sama kepada ChatGPT, Claude, dan Gemini mengenai perdebatan tentang penggunaan jurnalistik berhak cipta untuk melatih AI.
Namun, informasi dalam variasi platform AI yang berbeda besarnya relatif sama, tetapi cara masing-masing model menyusun cerita berbeda. ChatGPT mungkin menekankan kronologi dan alasan mengapa isu terkait penting, Gemini bergerak dari konflik menuju konsekuensi hukum dan solusi, sedangkan Claude bisa jadi membaginya menjadi dua jalur, yaitu litigasi dan lisensi.
Ini menunjukkan bahwa fakta tidak otomatis menghasilkan satu narasi dan AI bisa memberi bobot berbeda pada informasi yang sama.
Selain itu, sumber yang masing-masing model AI prioritaskan juga berbeda sehingga waktu dan konteks ketika pertanyaan diberikan dapat mengubah hasil.
Oleh karena itu, tantangan baru bagi PR bukan hanya memastikan informasi tentang brand tersedia, tetapi memahami bagaimana informasi tersebut mungkin dapat AI baca, pilih, dan rangkai ulang.
Perspektif PR Dari Provoke Media
Dulu, ketika ada pemberitaan yang PR anggap keliru atau merugikan, komunikator relatif tahu harus menghubungi siapa, seperti media, jurnalis, atau kanal yang menerbitkan informasi tersebut. Dengan AI, feedback loop menjadi lebih rumit.
AI bisa mengambil informasi dari berbagai sumber, lalu menggabungkannya menjadi satu jawaban. Akibatnya, tidak selalu ada satu “penulis” atau satu publikasi yang bisa mereka tunjuk ketika sebuah narasi terasa tidak sesuai dengan perspektif organisasi.
Dengan kata lain, AI sebenarnya tidak mengatakan fakta yang salah tentang sebuah perusahaan, tetapi lebih banyak menonjolkan kontroversi daripada pencapaiannya.
Lalu, Apa yang Bisa Dilakukan PR?
Praktisi PR dapat menggunakan dengan langkah sebagai berikut:
1. Memperkuat owned content
Pastikan informasi resmi mengenai organisasi mudah publik temukan, jelas, dan otoritatif.
2. Memperbaiki informasi di sumbernya
Jika ada informasi keliru, koreksi sumber yang menjadi asal informasi tersebut.
3. Menjaga konsistensi pesan
Pesan yang berbeda-beda di berbagai kanal dapat membuat AI mendapatkan gambaran organisasi yang tidak konsisten.
4. Tetap membangun earned media dan hubungan dengan media
AI tetap membutuhkan sumber informasi. Karena itu, kredibilitas dan keberadaan organisasi di sumber-sumber yang perusahaan atau lembaga percaya tetap penting.
5. Monitoring tidak cukup dilakukan sekali
PR perlu melihat bagaimana brand muncul dalam berbagai pertanyaan, model AI, konteks, dan waktu.
Closing
AI tidak menghilangkan fungsi PR dalam membentuk reputasi. Namun, jalur antara pesan yang dibuat organisasi dan pemahaman audiens menjadi semakin panjang.
Maka tantangan PR bukan lagi hanya apa yang ingin mereka sampaikan. Tetapi juga, apa yang terjadi pada cerita kita ketika informasi itu diproses oleh AI sebelum sampai kepada audiens?
PR mungkin tidak bisa mengontrol setiap jawaban AI, tetapi masih bisa memengaruhi kualitas, kredibilitas, dan konsistensi informasi yang masuk ke dalam sistem tersebut. PRovoke Media sendiri menekankan bahwa membentuk sumber informasi tidak berarti komunikator dapat sepenuhnya mengontrol narasi yang keluar dari AI.