Wacana Pemindahan Ibu Kota, Ramai di Jakarta Sunyi di Daerah

GAGASAN pemindahan Ibu Kota dari Jakarta ke Palangka Raya sudah sempat didengungkan oleh Presiden Soekarno pada 1957. Kendati beberapa peneliti sejarah beranggapan wacana itu tidak dapat diartikan sebagai wacana pemindahan, melainkan membagi beban Jakarta dan menampilkan wajah Indonesia tidak hanya di Jakarta.

Saat Indonesia bernama Hindia Belanda, wacana itu juga bergulir. Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman Willem Daendels berencana memindahkan Ibu Kota dari Batavia (Jakarta) ke Bandung, namun batal lantaran Perang Dunia II.

Wacana pemindahan Ibu Kota berlanjut saat pemerintah Presiden Soeharto dengan beberapa kota pilihan. Jonggol di Kabupaten Bogor salah satunya. Hanya pada era Megawati dan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) wacana ini tidak terdengar.

Ide pembentukan Ibu Kota baru kembali mengemuka pada 2010 dengan tujuan memisahkan pusat ekonomi dan komersial negara. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mendukung ide untuk membuat pusat politik dan administrasi Indonesia baru, karena masalah lingkungan dan overpopulasi Jakarta.

Pertengahan tahun ini, wacana pemindahan Ibu Kota kembali ramai diperbincangkan. Berdasarkan analisis Digital Nusantara Advertising (Diginusa) merujuk pada pemberitaan media, pergerakan isu pemindahan Ibu Kota muncul sejak Desember 2016 dan bertahan di bulan Januari meski dalam intensitas kecil.

Pada Maret dan April isu ini kembali mencuat di media dan mencapai puncaknya di bulan Juli pasca wacana Menteri Perencanaan Pembangunan PPN/Kepala Bappenas melakukan studi pemindahan Ibu Kota.

Wacana pemindahan Ibu Kota kemudian viral dan berubah menjadi isu nasional. Diginusa mencatat ada 3.466 berita yang tersebar dalam 390 media online, 20 besarnya didominasi media online nasional.

Meski menjadi isu nasional, melihat sebaran berita tentang pemindahan Ibu Kota hanya ramai diperbincangkan di Jakarta namun tidak demikian di daerah. Porsi dominan pemberitaan tentang terjadi di DKI Jakarta (2.732 berita) dan Kalimantan Tengah (1.767 berita) karena Palangka Raya digadang-gadang menjadi calon Ibu Kota negara.

Menurut Presiden Joko Widodo ada tiga kota di tiga provinsi yang sedang dilakukan kajian, meski Presiden enggan menjelaskan secara gamblang ihwa provinsi dimaksud dengan alasan meminimalisasi lonjakan harga tanah akibat aksi para spekulan.

Ket: Jusuf Kalla, Tjahjo Kumolo, Zulkifli Hasan, dan Johan Budi berpendapat bahwa wacana pemindahan ibu kota masih sulit direalisasikan

Pro dan Kontra Pemindahan Ibu Kota

Beberapa isu yang menjadi pilihan konten pemberitaan media di tengah menguatnya isu pemindahan Ibu Kota, didominasi isu berkaitan dengan langkah pemindahan, mulai dari kajian pemindahan, skema pembiayaan, kesiapan daerah tujuan, status lahan, hingga status aset pemerintah yang ditinggalkan.

Menyusul kemudian, sikap pesimisme sejumlah tokoh dan dukungan pemindahan Ibu Kota saling memperebutkan ruang wacana di media dengan mengutip sejumlah figur.

Penguasaan wacana masih muncul dari figur internal pemerintah. Menteri Badan Perencanaan Nasional/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro menjadi tokoh sentral menyebarluaskan wacana, beserta jajaran pemerintah lain mulai dari menteri hingga presiden dan wakil presiden.

Selain Bambang, tokoh-tokoh yang mendukung serta optimistis terhadap pemindahan Ibu Kota adalah Menteri Pekerjaan Umum Basuki Hadimuljono, Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar, Gubernur Kalimantan Tengah Sugiarto Sabran, dan mantan Kepala Bappenas Andrianof Chaniago. Mereka mengklaim pemindahan ibu kota akan mendorong pemerataan ekonomi dan pembangunan serta mengurangi beban Jakarta.

Di posisi berseberangan, terdapat nama Wakil Ketua DPR Fadli Zon, Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat, dan sejarah JJ Rizal yang menjadi tiga figur yang pesimistis terhadap wacana pemindahan Ibu Kota.

Sulitnya melakukan pemindahan ibu kota dan bukan merupakan kebutuhan mendesak menjadi argumen ketiga tokoh ini. Penolakan juga hadir dari figur Fahri Hamzah yang berasal dari partai oposisi pemerintah.

Dari internal pemerintah, terselip pula beberapa figur seperti Wakil Presiden Jusuf Kalla, Mendagri Tjahjo Kumolo, dan Juru bicara Kepresidenan Johan Budi yang masih terkesan pesimistis dengan pemindahan Ibu Kota. Sulitnya melakukan pemindahan Ibu Kota serta perlu kajian mendalam menjadi dasar argumen ketiganya. Meski demikian arah kutipan wacana tiga figur masih memperlihatkan pesan optimis Ibu Kota dapat dipindahkan.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *